Berita Bisnis

PENETRASI LG DI BISNIS AC TERASA DOMINAN

Berupaya meningkatkan pangsa pasar menjadi 32 persen pada tahun 2012. (Foto: Ist)Berupaya meningkatkan pangsa pasar menjadi 32 persen pada tahun 2012. (Foto: Ist)(Berita-Bisnis) - Ada dua kata kunci yang disodorkan PT Electrolux Indonesia ketika menghadirkan generasi terbaru air conditioner (AC) Inverter Viva Grande, medio Mei lalu.

Kedua kata kunci itu adalah mampu meningkatkan kualitas udara di rumah dan bermanfaat bagi kesehatan semua anggota keluarga.

Bagaimana caranya? Produk baru AC Electrolux itu disebutkan telah dilengkapi dengan beberapa fitur, seperti fitur pembersih udara yang terintegrasi, louver yang besar serta teknologi inverter DC.

Menurut Ina Widjojo, Product Marketing Manager Air Care Electrolux Indonesia, waktu itu ke media, dengan fitur tiga louver maka penyebaran udara di seluruh area rumah dijamin akan bisa lebih jauh.

Selain itu, teknologi inverter DC juga memastikan kebisingan yang rendah hingga 21 desibel. Plus hadirnya sleep programme yang dapat disesuaikan yang pada akhirnya membuat AC Electrolux Viva Grande menjadi lebih hemat energi.

Soal pemeliharaannya, tak perlu khawatir. Masih menurut Ina Widjojo, Electrolux Indonesia telah melengkapi Viva Grande dengan panel besar yang dirancang hingga sudut 75 derajat serta memiliki fungsi self diagnose yang menampilkan kode kesalahan pada layar LCD sehingga akan memudahkan untuk mengidentifikasi sekaligus memperbaiki masalah.

Itu sebabnya, Electrolux Indonesia optimis produk anyar itu akan memperoleh respon positif dari konsumen.

Adapun PT Panasonic Gobel Indonesia menawarkan key words yang berbeda. Medio Maret silam, saat meluncurkan produk AC inverter terbarunya, Panasonic Gobel Indonesia memilih kata kunci hemat energi alias hemat listrik.

Menurut Ronny Heribertus, Product Manager Air Conditioner Panasonic Gobel Indonesia, dengan teknologi inverter maka kompresor dimungkinkan untuk bekerja secara efisien. Ujung-ujungnya, bisa lebih hemat listrik hingga 50 persen ketimbang AC non inverter.

Di awal bulan ini, PT Sharp Electronics Indonesia malah mengusung isu perubahan iklim guna merayu konsumen agar memilih produk AC atau pendingin ruangan yang dijualnya.

Memang, seiring peningkatan daya beli konsumen, bisnis AC tampak sumringah belakangan ini. Ditambah berbagai alasan lain -mulai dari suhu yang semakin panas hingga hemat energi- pelan secara pasti produk AC dari berbagai merek pun semakin banyak diburu konsumen.

Coba simak pernyataan Eduard Aribinsar Naibaho, Direktur Operasi PT Electronic City Indonesia. Menurutnya, permintaan terhadap produk AC di gerai Electronic City memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Malah, menurutnya, pasar AC inverter tumbuh sekitar 125 sampai 130 persen per tahun. Besar kemungkinan, gerai sejenis yang dikelola oleh perusahaan ritel lain, juga mengalami hal serupa.

So, siapa yang paling untung dari situasi semacam ini?

Tahun lalu, Panasonic Gobel Indonesia menguasai market share sebesar 25 persen. (Foto: Ist)Tahun lalu, Panasonic Gobel Indonesia menguasai market share sebesar 25 persen. (Foto: Ist)Panasonic Gobel Indonesia memprediksi permintaan AC saat ini bakal tumbuh sekitar 15 hingga 17 persen dibanding realisasi penjualan tahun lalu. Dari jumlah itu, pertumbuhan penjualan AC hemat energi atau dengan teknologi inverter diperkirakan bakal tumbuh antara 25 sampai 30 persen per tahun. Data itu, kurang lebih diamini juga oleh Santo Kadarusman, Public Relation and Marketing Event Manager PT Hartono Istana Technology yang memproduksi AC inverter merek Polytron.

Oh ya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sampai saat ini, bisnis AC masih didominasi oleh AC non inverter. Porsi penjualannya tercatat kurang lebih 90 persen. Sisanya, barulah dikuasai oleh AC non inverter.

Namun, mengingat upaya edukasi pasar yang belakangan gencar dilakukan oleh masing-masing pemegang merek plus membuncahnya kesadaran konsumen terhadap isu hemat energi, maka secara perlahan porsi AC inverter pun mulai menanjak. Karena itu pula, Panasonic Gobel Indonesia optimis penjualan AC inverter minimal naik sebesar 15 persen sepanjang tahun 2012.

Terlepas dari dinamika inverter versus non inverter itu, mari kita lihat, siapa yang menonjol di bisnis AC sampai saat ini. Paling tidak, hingga akhir tahun lalu.

Berdasarkan data yang dilansir Gabungan Elektronik Indonesia disebutkan bahwa pada tahun 2010, realisasi penjualan beragam produk elektronik (salah satunya AC) telah mencapai Rp 23,5 triliun. Selang setahun, angka tersebut membesar jadi Rp 29,7 triliun atau tumbuh sebanyak 27 persen.

Nah, sepanjang tahun ini, penjualan elektronik diproyeksikan bakal bertumbuh lagi menjadi Rp 35,8 triliun. Dari jumlah tersebut, porsi produk AC diperkirakan sebanyak Rp 5,4 triliun - meningkat 20 persen dibanding tahun lalu. Jelas, "kue" bisnis sebanyak Rp 5,4 triliun inilah yang bakal diperebutkan oleh berbagai merek AC.

Coba simak rencana Panasonic Gobel Indonesia. Tahun ini, kata Ichiro Suganuma, Presiden Direktur Panasonic Gobel Indonesia, pihaknya menargetkan pertumbuhan pangsa pasar AC-nya bisa membesar hingga 30 sampai 35 persen.

Pasalnya, saat 1,66 juta unit AC bisa terjual pada tahun 2011, Panasonic Gobel Indonesia mengklaim sudah mampu menggenggam market share sebesar 20 sampai 25 persen. Jadi, wajar saja, bila sepanjang tahun ini, dengan berbagai produk baru yang diluncurkan, perusahaan elektronika asal Jepang itu memasang target yang lebih tinggi lagi. Apalagi pabrik Panasonic Gobel Indonesia yang berlokasi di Cibubur mampu memproduksi 250 ribu sampai 300 ribu unit AC per tahunnya.

Seolah tak mau ketinggalan, PT LG Electronics Indonesia pun mematok kenaikan pangsa pasar AC menjadi 32 persen pada tahun 2012. Bila dibandingkan dengan perolehan tahun 2011, angka tersebut meningkat sebesar 2 persen.

Menurut Budi Setiawan, Direktur Penjualan LG Electronics Indonesia, target di atas pasti bisa diraih lantaran pihaknya semakin aktif memperkuat jaringan pemasaran LG Electronics Indonesia di semua lokasi.

Dan, yang paling penting adalah LG Electronics Indonesia berencana meluncurkan kurang lebih 10 produk baru AC (inverter dan non-inverter) selama tahun 2012. Hal itu sudah dimulai saat LG Electronics Indonesia memperkenalkan AC LG Deluxe Skin Care, beberapa waktu lalu. Produk AC tersebut diklaim sebagai sebuah perangkat pendingin ruangan pertama di dunia yang sekaligus mampu berfungsi menjaga kesehatan kulit pengunanya.

Untuk AC Deluxe Skin Care-nya, LG Electronics Indonesia berharap bisa menjual sebanyak 20 ribu hingga 25 ribu unit per bulannya. Asal tahu saja, target sama akan dibebankan juga ke produk-produk AC yang bakal hadir kemudian.

Jika ditambah dengan produk pendingin ruangan yang telah hadir sebelumnya, maka LG Electronics Indonesia berniat menjual AC LG total hingga 70 ribu unit per bulan atau meningkat sebesar 27 persen dibanding tahun lalu (55 ribu unit per bulan).

Berencana menjual 70 ribu  unit AC LG per bulan. (Foto: Ist)Berencana menjual 70 ribu unit AC LG per bulan. (Foto: Ist)Seandainya saja harapan itu bisa diwujudkan, maka total penjualan 70 ribu unit AC LG per bulannya selama tahun ini akan dapat memberikan kontribusi sebanyak 15 persen terhadap target penjualan LG Electronics Indonesia pada tahun 2012 yang diproyeksikan mencapai Rp 9,6 triliun sampai Rp 10 triliun.

Bagaimana dengan yang lain?

Bagi Sharp Corporation Jepang, pasar Indonesia memiliki posisi yang strategis berhubung tak kurang dari 400 unit AC Sharp dapat terjual dalam kurun waktu setahun. Sementara di Jepang sendiri, penjualan AC Sharp mencapai 600 ribu unit per tahun.

Karena itu pula, melalui PT Sharp Electronics Indonesia, Sharp Corporation pun tampak aktif merilis berbagai produk baru AC-nya. Namun, bila dibandingkan dengan merek lain, AC Sharp kelihatannya masih harus berupaya keras untuk "mempersempit jarak".

Sekedar informasi, pada tahun lalu, Sharp Electronics Indonesia baru menguasai sekitar 20 hingga 25 persen market share AC. Tahun depan, Sharp Electronics Indonesia berencana meningkatkannya menjadi 30 persen.

Hartono Istana Teknologi sendiri, lewat penjualan televisi light emitting diode (LED) 3D, televisi liquid crystal display (LCD), AC, lemari es, mesin cuci, dan mobile phone, berniat meraih penjualan senilai Rp 3 triliun sepanjang pada tahun ini. Tapi sayang, angka detil penjualan AC-nya tidak banyak terungkap. Yang jelas, Hartono Istana Teknologi tetap giat memasarkan AC inverter merek Polytron.

Bila merujuk data di atas, tampak jelas LG Electronics Indonesia sudah menguasai pasar AC di Indonesia sejak akhir tahun lalu dengan perolehan pangsa pasar sebanyak 30 persen. Atau dengan kata lain, penetrasi LG Electronics Indonesia di pasar AC terasa sangat dominan.

Sementara itu, Panasonic Gobel Indonesia menyusul di urutan kedua. Adapun posisi selanjutnya "dihuni" oleh merek-merek lain, seperti Sharp, Polytron, dan lain sebagainya.

Tahun ini, posisi itu agaknya tidak akan banyak berubah kendati bisnis AC di Indonesia bakal semakin riuh dengan kehadiran produk-produk baru yang diklaim memiliki fitur dan fungsi beragam. (BB/dbs/Christov)

Berhubungan Dengan:
(Berita-Bisnis) - Dasar pemikirannya jelas yaitu asupan beragam nutrisi yan
(Berita-Bisnis) - Dalam rangka mewujudkan ambisinya sebagai Bank Devisa dal
(Berita-Bisnis) - Setelah mengelola Favehotel Wachid Hasyim, Kemang, Pasar