Berita Bisnis

NAMA GAJAH TUNGGAL "TERDENGAR NYARING" DI PASAR BAN SEPEDA MOTOR

Targetkan penjualan 26,4 juta unit ban sepeda motor. (Foto: Ist)Targetkan penjualan 26,4 juta unit ban sepeda motor. (Foto: Ist)(BeritaBisnis) - Ada yang menarik dari data terbaru yang disampaikan Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) belum lama ini. Dari Januari hingga Desember 2011, total produksi ban roda dua di Indonesia disebutkan telah mencapai 42 juta unit.

Adapun di tahun ini, kata Azis Pane, Ketua APBI, total penjualan ban roda dua diperkirakan bakal menyentuh angka 54 juta unit.

Maklumlah, proyeksi itu terkait dengan asumsi penjualan sepeda motor lebih dari 9 juta unit yang akan terjadi sepanjang tahun 2012.

Memang, begitu permintaan sepeda motor meningkat, penjualan ban roda dua pun dipastikan akan ikut terkerek naik. Ada hubungan sebab akibat yang erat diantara keduanya.

Tapi, jangan salah. Bukan cuma karena sepeda motor baru maka grafik penjualan ban roda dua bisa bergerak naik. Proses penggantian roda lama ke yang baru (replacement) pun berpeluang mendorong angka penjualan ban roda dua. Tak terkecuali, jika si empunya sepeda motor melakukan modifikasi.

Itu sebabnya PT Michelindo Mitra Abadi tampak serius menggarap celah bisnis yang cukup menjanjikan ini: modifikasi. Sekitar Mei-Juni 2011, Michelindo Mitra Abadi mencoba memperkenalkan tiga tipe ban roda dua sekaligus. Tiga tipe ban itu terdiri dari pilot sporty untuk dragbike dan motor sport, ban motor skutik serta ban motor bebek.

Masing-masing ban dijual dengan harga cukup bervariasi. Misal, Michelin Pilot Sporty yang ditawarkan untuk dragbike dan motor sport, dilepas dengan harga Rp 279 ribu hingga Rp 720 ribu. Adapun ban sepeda motor skutik (Michelin M29S) dibanderol pada harga Rp 230 ribu sampai Rp 276 ribu. Sedangkan, Michelin M85 yang diarahkan ke sepeda motor bebek dijual senilai Rp 230 ribu hingga Rp 292 ribu.

Apa hasilnya?

Jemmy Tantoro, Managing Director Michelindo Mitra Abadi, pantas bangga. Hingga akhir November 2011, 80 ribu ban Michelin telah habis diborong konsumen. Dan, sampai tutup tahun lalu, jumlah itu diyakini telah berubah menjadi 90 ribu unit ban. Singkat cerita, kerja setengah tahun memberikan hasil memuaskan.

Kelak, di tahun ini, Jemmy Tantoro dan jajarannya berambisi bakal mampu menjual 400 ribu unit ban Michelin. Untuk itu, Michelindo Mitra Abadi akan menambah jumlah distributornya dari 10 distributor menjadi 30 distributor plus gencar melakukan penetrasi ke bengkel-bengkel modifikasi sepeda motor.

Bersamaan dengan itu, melalui pernyataannya di berbagai media, Jemmy Tantoro juga berencana meluncurkan ban sport baru di sekitar kuartal pertama tahun 2012.

Ada kisah di balik cerita di atas. Sebelum memperkenalkan produknya, Michelindo Mitra Abadi sempat menggelar riset terbatas terhadap pengguna sepeda motor. Jemmy Tantoro dan timnya ingin tahu, jika ada peluang untuk memodikasi sepeda motor, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh para pengguna sepeda motor.

Hasil riset kemudian Hasil kerja  yang memuaskan. (Foto: Ist)Hasil kerja yang memuaskan. (Foto: Ist)memperlihatkan bahwa dari 50 pengguna sepeda motor, bakal ada minimal satu konsumen yang ingin memodifikasi sepeda motornya. Dan, dari sekian banyak item yang akan dipercantik, sudah pasti ban sepeda motor salah satunya. Hasil survei itulah yang kemudian memperkuat keyakinan tim Michelindo Mitra Abadi kalau ban yang mereka tawarkan bakal diminati.

Buktinya, ya itu tadi. Total 80 ribu unit ban laris manis dalam tempo 6 bulan. Analisa mereka terhadap tingginya kebutuhan modifikasi roda ban dua tidak meleset. Tepat adanya.

Dengan prestasi itu, kiprah Michelindo Mitra Abadi di bisnis ban roda dua bisa dibilang sangat meyakinkan. Pasalnya, Michelindo Mitra Abadi selama ini lebih dikenal sebagai distributor dan importir resmi ban Michelin untuk ban mobil penumpang, bus, dan pesawat.

Celah pasar modifikasi yang terus berkembang itu, sesungguhnya juga telah dilirik oleh PT Gajah Tunggal Tbk. yang menghasilkan ban motor IRC dan Zeneos.

Bulan September 2011 misalnya, Gajah Tunggal meluncurkan 4 tipe ban roda dua merek Zeneos yang dirancang dengan pattern modern dan tubeless (tanpa ban dalam). Zeneos dilepas dengan harga Rp 210 ribu hingga Rp 450 ribu per unit. Hasilnya, menurut Arijanto Notorahardjo, General Manager Marketing Gajah Tunggal di berbagai media, penjualan Zeneos mencapai 125 ribu unit per bulannya.

Adapun tahun ini, Gajah Tunggal mematok target penjualan Zeneos sampai 1,25 juta unit. Jika hal itu bisa terlaksana, maka target penjualan 25 juta unit seluruh ban roda dua Gajah Tunggal bisa tercapai sepanjang tahun 2012.

Untuk mendongkrak penjualan Zeneos-nya, Gajah Tunggal menggunakan cara yang hampir mirip dengan Michelindo Mitra Abadi, yaitu meluncurkan produk baru. Karena itu, bila tidak ada aral melintang, Gajah Tunggal akan merilis ban Zeneos khusus untuk balap atau kompetisi, dalam waktu tidak lama lagi.

Gajah Tunggal yang telah beroperasi sejak tahun 1951, dikenal luas sebagai produsen ban terpadu yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Gajah Tunggal juga punya rentang produk dan wilayah penyebaran produk yang telah menjalar ke berbagai pelosok dunia.

Mulai dari ban untuk mobil penumpang, SUV's, truk ringan, off-road, industri hingga sepeda motor. Selain itu, Gajah Tunggal juga memproduksi dan mendistribusikan produk karet terkait lainnya, seperti karet sintetis, benang ban, ban dalam, flap, o-ring dan lain sebagainya.

Dan, sampai saat ini, kapasitas produksi ban sepeda motor Gajah Tunggal mencapai 90 ribu unit ban per hari. Di tahun 2014-2015, kapasitas itu direncanakan meningkat menjadi 105 ribu unit ban per harinya.

Selain Michelindo Mitra Abadi dan Gajah Tunggal, hadir juga PT Multistrada Arah Sarana Tbk. yang aktif memutar "roda peruntungannya" di bisnis ini.

Multistrada yang bermarkas di Cikarang Timur, Bekasi ini meramaikan pasar ban roda dua lewat merek Corsa yang diproduksi sebanyak 16 ribu unit per harinya. Sedangkan total produksi ban motor hingga Desember 2011 telah mencapai 5,6 juta unit.

Lebih dari itu, agar tetap eksis di tengah persaingan yang ketat, Multistrada pun berkeinginan membuka pabrik ban baru di luar Pulau Jawa. Dari penuturan Pieter Tanuri, Presiden Direktur Multistrada, ke media, disebutkan bahwa pihaknya sedang membidik tiga daerah yang akan dijadikan sebagai lokasi pembangunan pabrik baru tersebut. Ketiga daerah itu adalah Sibolga (Tapanuli Tengah), Kalimantan, dan Sulawesi.

Area pemasarannya terbentang luas. (Foto: Ist)Area pemasarannya terbentang luas. (Foto: Ist)Sedangkan di Cikarang, Multistrada sudah menyiapkan lahan seluas 10 hektar untuk pembangunan pusat pelatihan dengan kapasitas 3 ribu orang.

Multistrada memang tidak sekedar menjual ban sepeda motor. Produsen ban lokal ini juga menghadirkan ban bermerek Achilles, Corsa, dan Strada untuk kendaraan roda empat. Sampai akhir Desember silam, kapasitas produksi ban mobil Multistrada sudah menggapai angka 25 ribu unit per harinya dengan area pemasaran yang terbentang luas hingga ke Amerika Serikat, Asia Pasifik, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.

Pada tahun ini juga, Multistrada menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 50 persen mengingat telah terwujudnya rencana peningkatan produksi ban mobil maupun ban sepeda motor. Asal tahu saja, per akhir September 2011, penjualan Multistrada tercatat sebanyak Rp 2,08 triliun yang bersumber dari ekspor (74 persen) dan pasar domestik sebesar 26 persen.

Bagaimana dengan Gajah Tunggal?

Dari Januari 2011 sampai September 2011, Gajah Tunggal telah berhasil menjual 16 juta unit ban motor. Sedangkan hingga akhir tahun 2011, diperkirakan sudah mencapai 22 juta unit. Itu sebabnya, pada tahun ini, Gajah Tunggal menargetkan volume penjualan ban sepeda motor menjadi 26,4 juta unit alias naik 15 persen dari target tahun sebelumnya.

Selain ketiga nama di atas, bisnis ban roda dua juga riuh dengan kehadiran merek-merek lain. Bahkan mengundang minat banyak investor baru. Ambil contoh, PT Astra Otoparts Tbk. yang bekerjasama dengan perusahaan ban internasional Pirelli yang akan mendirikan pabrik ban sepeda motor dengan nilai Rp 800 miliar.

Atau rencana lima BUMN (PT Perkebunan Nusantara III, Perkebunan Nusantara VII, Perkebunan Nusantara VIII, Perkebunan Nusantara IX, dan PT Perkebunan Nusantara XII) yang juga berkeinginan membangun pabrik ban sepeda motor. Tak terkecuali niatan produsen ban asal Korea Selatan Hankook Tire yang ingin menghadirkan pabrik ban di Bekasi senilai US$ 1,2 miliar.

Meski demikian, data APBI masih menunjukkan bahwa nama Gajah Tunggal-lah yang terdengar nyaring di bisnis ban roda dua, sampai saat ini. Dari total produksi selama tahun 2011 yang mencapai 42 juta unit ban roda dua, tak kurang dari setengahnya adalah "milik" Gajah Tunggal yang hadir dengan label IRC dan Zeneos.

Di urutan berikutnya, bertengger Multistrada. Adapun Federal, Dunlop, dan Swallow menyusul kemudian. Sisanya, diisi merek-merek lain.











Berhubungan Dengan:
(Berita-Bisnis) - Dengan mengusung tema ‘Untuk Anda dan Keluarga’, PT B
(Berita-Bisnis) - Era dimana klub sepakbola domestik memiliki posisi yang p
(Berita-Bisnis) - Dalam rangka mewujudkan ambisinya sebagai Bank Devisa dal