Berita Bisnis

GRAMEDIA MERAJAI BISNIS TOKO BUKU

Toko pertama di kawasan Jakarta Barat. (Foto: Ist)Toko pertama di kawasan Jakarta Barat. (Foto: Ist)(BeritaBisnis) - Tiba-tiba pada minggu ketiga Desember 2011, Handy Tjandra, Presiden Direktur PT Leksika Indonesia memberikan pernyataan penting.

Dalam beberapa tahun ke depan, Leksika Indonesia ingin membuka 50 gerai toko buku di seluruh Indonesia.

Belakangan, begitu alasannya, grafik minat baca masyarakat memperlihatkan tren peningkatan. Maka, supaya tidak ketinggalan kereta, Leksika Indonesia pun berketetapan hari untuk mewujudkan rencana bisnis itu.

Sayang, info yang dibagi ke media waktu itu, cuma sedikit. Alhasil, alokasi dana pengembangan 50 toko buku tidak tergambar secara jelas. Termasuk jadwal pasti pencapaian target.  

Yang terang hanya Handy Tjandra sedang meresmikan pembukaan toko buku Leksika seluas 700 meter persegi di Kalibata City Square Jakarta Selatan, waktu itu. Toko buku Leksika itu merupakan toko buku keempat yang berada dalam naungan pengelolaan Leksika Indonesia.

Selain gerai Kalibata City Square, Leksika Indonesia sampai saat ini mengelola tiga toko buku lainnya yang berlokasi di Universitas Tarumanegara, Universitas Mercu Buana, dan Lenteng Agung.

Leksika Indonesia sendiri adalah anak usaha PT Salemba Emban Patria atau yang lebih populer dengan nama Penerbit Salemba Empat.

Terlepas dari tingkat prosentasenya, minat baca masyarakat saat ini memang cenderung sedang mengembang. Di akhir pekan, bisa dilihat dengan jelas kalau toko buku Gramedia kerap disesaki para konsumen. Baik yang sekedar membaca sambil lalu atau hendak memburu buku baru, maupun mereka yang ingin berbelanja peralatan kantor.

Apalagi jika toko buku itu sedang membuka gerai barunya. Sudah pasti ruangan tampak begitu sesak dan antrian akan mengular. Maklum, anak usaha Kompas Gramedia Grup ini sudah punya nama besar di bisnis toko buku.

Malah tak berlebihan bila disebut nyaris menjadi nama generik jika menyebut toko buku. Sering terjadi juga, nama generik itu bersinggungan pula dengan outlet produk stationery. Kalau ingin mencari produk fancy misalnya, nama Gramedia-lah yang sering muncul pertama kali di benak konsumen. Artinya, makna suku kata Gramedia sudah lebih dari sekedar toko buku.

Toko buku Gramedia pertama dibuka pada Februari 1970 di kawasan Jakarta Barat. Gerai pertama itu cuma seluas 25 meter persegi. Namun, melalui tangan dingin pengelolanya PT Gramedia Asri Media, jumlah toko buku Gramedia saat ini tercatat 98 gerai dan sudah merambah ke Malaysia.

Tahun 2011 lalu, Gramedia Asri Media sempat mengungkapkan rencananya untuk menambah 10 gerai baru lagi yang hadir di berbagai kota di Indonesia, seperti Surabaya, Jakarta, dan Gorontalo. Termasuk di Madiun, Kediri, dan Magelang.

Rentang produk yang tersedia di toko buku Gramedia pun sangat beragam, mulai dari buku lokal maupun impor yang bersumber dari beragam penerbit, produk stationery, fancy, peralatan kantor, alat olahraga, alat musik, sampai multi media.

Jangan tanya jumlah penerbit yang bekerjasama dengan toko buku Gramedia. Selain didukung oleh penerbit internal Kompas Gramedia Grup seperti Gramedia Pustaka Utama, Elex Media Komputindo, Gramedia Widya Sarana, Bhuana Ilmu Populer, dan Penerbit Gramedia Majalah, ratusan penerbit lokal lainnya juga cukup setia memasok hasil produksinya ke berbagai gerai Gramedia.

Tak terkecuali penerbit manca negara semacam Prentice Hall, McGraw Hill, Addison Wesley, dan lain sebagainya.

Di kemudian hari, Gramedia Asri Media menghadirkan toko buku TriMedia yang diarahkan untuk kalangan menengah atas sekaligus untuk memperluas jaringan usahanya di bisnis toko buku.

Memiliki 98  gerai dan merambah ke Malaysia. (Foto: Ist)Memiliki 98 gerai dan merambah ke Malaysia. (Foto: Ist)Berbeda dengan Gramedia, penampilan TriMedia diatur sedemikian rupa, khususnya dalam penataan ruangnya. Selain itu, jumlah buku impor yang dipajang di TriMedia pun diperbanyak. Selebihnya, hampir sama, yakni buku anak, remaja, orang tua, hobi, kesehatan, hingga kamus aneka bahasa.

Seiring dengan perubahan gaya hidup konsumen yang kemudian menggunakan layanan pembelian buku di dunia maya, maka pada tahun 2002, Gramedia Asri Media meluncurkan toko buku Gramedia Online atau Gramedia Cyber Store yang terus-menerus dikembangkan dan hingga sekarang sudah memajang lebih dari 60 ribu judul buku.

Pertanyaannya, berapa besar omset si raja toko buku Indonesia ini?

Gramedia Asri Media bukanlah perusahaan terbuka. Jadi, tidak ada data yang cukup akurat untuk disampaikan guna menjelaskan kedigdayaan Gramedia Asri Media di bisnis toko buku.

Cuma, pemiliknya Jakob Oetama, sudah rutin masuk ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Misal pada tahun 2008, Majalah Forbes menyebut Jakob Oetama berada dalam kategori 40 orang terkaya di Indonesia. Kala itu, Forbes mencatat kekayaan bersih Jakob Oetama mencapai USD 80 juta. Dua tahun kemudian, kekayaannya membengkak menjadi USD 130 juta.

Yang terbaru adalah data orang terkaya di Indonesia versi Majalah Globe Asia yang menempatkan Jakob Oetama dalam 50 orang terkaya di Indonesia. Namun, jujur, data ini pun relatif bias karena lebih merujuk ke Kompas, bisnis koran milik Jakob Oetama. Info tentang kontribusi Gramedia Asri Media terhadap total pendapatan Kompas Gramedia Grup sangat minim.

Tapi, yang pasti, Gramedia Asri Media telah menghadirkan toko buku Gramedia di Jl. Matraman Raya, Jakarta, yang masuk dalam golongan toko buku terbesar di kawasan Asia Tenggara sampai saat ini. Toko buku Gramedia yang satu ini memiliki sekitar 50 ribu judul buku. Adapun toko buku Gramedia yang lain rata-rata menyediakan kurang lebih 30 ribu judul buku.

Jauh dari kesan gegap gempita, penerbit Mizan juga menghadirkan toko buku seperti Mizan Book Corner di Yogyakarta yang menyediakan buku-buku terbitan Mizan Group, semacam buku-buku Mizan, Mizania, DAR Mizan, Bentang Pustaka, Lingkar Pena, Hikmah, C Publising, Cinta, IIMaN, B First, Teraju, Karisma, dan lain sebagainya.

Selain itu, Mizan juga merilis MP Book Point di Cipete dan Mizan Book Corner di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat.

Khusus menggarap segmen pembaca buku-buku agama dan religi, khususnya Kristen, pada tahun 1992, Yayasan Media Buana Indonesia mendirikan penerbit dan toko buku Metanoia. Hampir sama dengan sejarah awal pendirian toko buku Gramedia, toko buku Metanoia pun pertama kali hadir di sebuah kios kecil di sebuah gereja sebelum kemudian pindah ke gedung Speed Plaza.

Sampai sekarang, toko buku Metanoia tercatat lebih dari 19 gerai dengan produk buku maupun gifts. Rentang bukunya sendiri terdiri dari Family, Christian Life, Book for Man, Book for Woman, Inspirational, Church & Ministry, Relationship, Leadership, Finance, dan Miscelanous.

Toko buku Metanoia diklaim sebagai toko buku Kristen terbesar di Indonesia.

Jauh sebelum nama-nama di atas mulai beroperasi, Tjio Wie Tay (kemudian dikenal sebagai Haji Masagung) telah mendirikan toko buku Gunung Agung di Jalan Kwitang, Jakarta, pada tahun 1953.

Dan, dalam usianya yang hampir 60 tahun saat ini serta sudah mencatatkan dirinya sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia, toko buku Gunung Agung memiliki 32 cabang yang tersebar di Jawa dan Bali. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 cabang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Sedangkan, total luas area penjualan toko buku Gunung Agung sendiri tercatat seluas 28 ribu meter persegi.

Menjadi  incaran pengembangan sayap bisnis. (Foto: Ist)Menjadi incaran pengembangan sayap bisnis. (Foto: Ist)Sama seperti yang lain, Gunung Agung pun kini tak hanya menjual buku. Jajaran produk yang ditawarkannya mulai dari stationery, perlengkapan sekolah, fancy, perlengkapan olah raga, musik, office automation, perlengkapan kantor, produk teknologi tinggi, hingga komputer.

Guna menyasar kalangan menengah atas, Gunung Agung pun meluncurkan TGA Bookstore yang berada di Gedung ANZ Square Podium Thamrin Nine, Senayan City, dan Galaxy Mall Surabaya.

Walau tidak selalu menjadi pusat perhatian di media, bisnis toko buku sesungguhnya menjadi incaran para pebisnis yang ingin mengembangkan sayap bisnisnya. Buktinya, PT Mitra Adi Perkasa Tbk. -lifestyle retailer nomor satu di Indonesia- pun ikut berkecimpung di bisnis toko buku melalui bendera toko buku Kinokuniya.

Toko buku Kinokuniya pertama dibuka pada Maret 1990. Dengan koleksi buku dan majalah berbahasa Inggris, Jepang, Mandarin, dan Indonesia, serta alat tulis merek eksklusif dari Jepang, toko buku Kinokuniya kini hadir di tiga lokasi, yaitu di Plaza Senayan, Pondok Indah Mall, dan Grand Indonesia.

Mitra Adi Perkasa sendiri merupakan pemegang hak waralaba Kinokuniya di Indonesia.

Ada juga Times Bookstore yang membuka gerai pertamanya di Lippo Village Karawaci. Toko buku yang memiliki rentang produk buku-buku impor ini, sampai sekarang telah hadir di beberapa lokasi, seperti Kemang Village, Pacific Place, dan Plaza Semanggi. Operasi Times Bookstore di Indonesia disebut-sebut merupakan bagian dari imperium bisnis Lippo Group.

Di luar itu, masih ada banyak toko buku lain yang juga eksis hingga saat ini. Namun, belum ada satu pun yang bisa menandingi kedigdayaan toko buku Gramedia. Unit usaha Kompas Gramedia Grup ini memang menjadi raja di bisnis toko buku di Indonesia.

Berhubungan Dengan:
(Berita-Bisnis) - Jika tak ada halangan, pada pertengahan tahun 2014, conve
(Berita-Bisnis) - Dominasi Lippo Malls semakin kokoh di lini bisnis pusat p
(Berita-Bisnis) - Mengulang kesuksesan peluncuran lima menara apartemen yan