Berita Bisnis

BENDERA DYANDRA BERKIBAR KENCANG DI BISNIS MICE

Dikelola dengan sistem BOT. (Foto: Ist)Dikelola dengan sistem BOT. (Foto: Ist)(BeritaBisnis) - Bila semuanya berjalan lancar, maka pada tanggal 18 hingga 24 Juni 2012 akan digelar pameran Filateli Dunia alias World Stamp Championship 2012 di Balai Sidang Jakarta Convention Center.

Adapun penyelenggaranya adalah Perkumpulan Filateli Indonesia yang mendapat dukungan dari pemerintah, khususnya Menkominfo dan PT Pos Indonesia.

Pameran tersebut diprediksi bakal diikuti oleh sekitar 70 Federasi Filateli di dunia serta diramaikan oleh 100 stamp dealer dari luar maupun dalam negeri.

Di bulan Januari ini sendiri, Balai Sidang Jakarta Convention Center -lebih populer dengan nama Jakarta Convention Center atau JCC- akan menggelar lebih kurang 10 event. Lantas, sepanjang tahun ini -seperti yang tertera di laman resminya- JCC akan digunakan oleh tak kurang 100 exhibition dan 19 conference. Belum kegiatan lainnya.

Artinya, JCC yang dibuka pertama kali pada tahun 1992 itu, memang tidak pernah sepi. Tahun 2008 contohnya, ada 427 event yang memesan tempat di JCC. Sebagian besar berupa pameran dan konvensi.

Setahun kemudian, angka itu sempat turun menjadi 393 event, namun kembali bergerak naik menjadi 421 event pada tahun berikutnya. Lagi-lagi, acara pameran dan konvensi mendominasi.

Diakui atau tidak, JCC yang berdiri di atas lahan 1 hektar dan memiliki daya tampung 5 ribu kursi itu sering disebut sebagai gedung pertemuan, gedung pameran atau gedung konvensi terbesar di Indonesia.

Padahal, di kawasan Sentul telah dibuka Sentul International Convention Center (SICC) sejak tahun 2010, yang justru jauh lebih luas dengan total lahan mencapai 6,4 hektar dan punya daya tampung sampai 12 ribu kursi.

Entahlah, mengapa anggapan itu masih melekat di benak banyak orang. Mungkin saja karena lokasinya yang sangat strategis -berada di pusat kota Jakarta- sehingga JCC mudah dijangkau dari segala penjuru.

Yang pasti, bila ditilik dari luas lahan, JCC bukan apa-apa dibanding SICC. Termasuk kalah jauh ketimbang Jakarta International Expo Kemayoran yang berada di atas lahan seluas 10 hektar.

Akan tetapi, sebaliknya yang terjadi jika diukur dari jumlah event yang terselenggara. Sampai saat ini, JCC tampaknya masih menjadi pilihan utama bagi panitia pameran atau event organizer ketika ingin melangsungkan beragam acara. 

Mengacu ke jumlah event yang dilaksanakan di JCC dari tahun 2008 hingga tahun 2010, tampak jelas kalau bisnis pameran, meeting, kovensi, dan pertemuan sedang memperlihatkan tren yang menggembirakan belakangan ini. Pemerintah juga getol mendorong pengembangan bisnis yang satu ini yang dikenal luas dengan sebutan meeting, intensive, convention, exhibition (MICE).

Itu sebabnya, ibarat gula yang dikerubungi semut, gedung-gedung baru yang memposisikan diri sebagai arena penyelenggaraan MICE bermunculan bak cendawan di musim hujan.

Bali  Nusa Dua Convention Center menghelat beragam event internasional. (Foto:  Ist) Bali Nusa Dua Convention Center menghelat beragam event internasional. (Foto: Ist) Tak percaya? Lihat apa yang akan dilakukan PT Nusa Dua Indonesia nantinya di Makassar. Menurut Danny Budiharto, Direktur Utama Nusa Dua Indonesia, pihaknya bakal membangun gedung konvensi bertaraf internasional di atas lahan seluas 2,5 hektar di Tanjung Bunga, Makassar.

Pembangunan gedung konvensi dengan kapasitas 8 ribu orang itu akan dimulai pada Januari 2012 dan diproyeksikan sudah bisa beroperasi pada tahun 2013.

Perlu diketahui, Nusa Dua Indonesia adalah bagian yang tak terpisahkan dari Dyandra and Co. yang merupakan anak usaha Kompas Gramedia Grup yang bergerak di bidang konvensi, pameran, dan pembangunan infrastruktur properti pendukungnya.

Sebelumnya, grup bisnis ini, melalui PT Dyandra Media International -lengan lain bisnis Dyandra and Co.- sudah mengoperasikan Bali Nusa Dua Convention Center yang berkapasitas 5 ribu orang.

Bali Nusa Dua Convention Center berdiri di atas lahan seluas 7 hektar milik Bali Tourism Development Corporation. Dyandra Media International memperoleh hak pengelolaan dengan sistem build-operate-transfer (BOT) selama 50 tahun.

Sebenarnya, masih ada mega proyek yang akan dihadirkan oleh Dyandra and Co. dalam waktu tidak lama lagi. Mega proyek itu adalah pembangunan gedung MICE terbesar di Indonesia senilai Rp 1,5 triliun dengan nama Gedung Indonesia Expo di wilayah BSD City, Tangerang Selatan. Gedung yang ditargetkan selesai setahun lagi itu nantinya bisa menampung hingga 200 ribu orang.

Pembangunan Indonesia Expo seluas 25 hektar melibatkan tiga pihak, yaitu Sinar Mas Land, Kompas Gramedia Grup dan Pico Art International.

Yang pertama disebut merupakan pemilik lahan. Sedangkan yang kedua berperan sebagai pengembang dan pengelola melalui PT Medialand International dan Dyandra Media International. Sementara yang ketiga bertugas sebagai pemasar terutama untuk pasar manca negara.

Kata Dhanny Budiharto, yang juga menjabat sebagai Direktur Dyandra Media International, lahan seluas 25 hektar akan dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu bangunan seluas 15 hektar dan areal parkir seluas 10 hektar. Indonesia Expo pun didesain memiliki 10 hall -ruang konferensi, konser, teater, dan pameran- plus museum dan hotel.

Singkat cerita, Indonesia Expo rencananya tidak akan kalah bila "diadu" dengan Singapore Expo seluas 120 ribu meter persegi di Singapura atau Impact Arena, Exhibition and Convention Center seluas 140 ribu meter persegi di Thailand.

Daya tarik bisnis MICE ternyata diam-diam menarik perhatian PT Alam Sutera Realty Tbk. dan PT Summarecon Agung Tbk, dua pengembang properti yang memiliki aset di Serpong, Tangerang.

Buktinya, Alam Sutera ingin membangun convention center di atas lahan seluas 19 hektar dengan nilai investasi sebesar Rp 800 miliar. Dalam rancangan yang saat ini sedang digodok lebih intensif, gedung pertemuan dan pertunjukan itu bakal dihadirkan pada tahun 2014 di wilayah Alam Sutera tahap kedua atau dekat dengan kawasan pusat bisnis Alam Sutera.

Adapun Summarecon Agung sudah menyiapkan lahan seluas 5 ribu meter persegi untuk pembangunan pusat konvensi.

Di Kalimantan Timur, gagasan serupa ternyata muncul juga. Pemerintah propinsi setempat hendak mendirikan gedung konvensi senilai lebih dari Rp 250 miliar di komplek Stadion Madya Sempaja, Samarinda.

SICC menjadi lokasi pertunjukan skala besar. (Foto: Ist)SICC menjadi lokasi pertunjukan skala besar. (Foto: Ist)Betul. Bisnis MICE kelak akan semakin bertumbuh dan perlu sarana yang mampu mengakomodirnya dengan standar internasional. Hal mana bisa dilihat dari data yang pernah dilansir Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bahwa dari total kunjungan 7,7 juta wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2011 lalu, tak kurang dari setengahnya merupakan wisatawan MICE. Tahun ini, angka tersebut diperkirakan bakal meningkat.

Selain JCC, SICC, dan Jakarta International Expo Kemayoran, tentu masih ada beberapa gedung konvensi yang sudah beroperasi dan memiliki nama. Sebut misalnya, Grand City Convention and Exhibition Hall seluas 21 ribu meter persegi yang dimiliki PT Hardayawidya Graha dan berlokasi di jantung kota Surabaya serta telah dibuka untuk umum sejak tahun 2009.

Atau gedung pameran dan konvensi Small and Medium Enterprises and Cooperatives alias SMESCO yang dikelola oleh Smesco Indonesia Company yang berada dalam naungan Kementerian Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. Gedung SMESCO yang dibangun di atas lahan seluas 0,24 hektar itu mempunyai daya tampung 2500 kursi.

Tak terkecuali Balai Kartini seluas 0,4 hektar dengan kapasitas 6 ribu kursi serta Jakarta International Event & Convention Center (JITEC) seluas 0,8 hektar dengan 5 ribu kursi. Gedung-gedung pameran dan konvensi ini diyakini bersaing ketat untuk menarik hati penyelenggara acara maupun para event organizer. Lebih dari itu, kata kunci fasilitas pun sudah pasti menjadi salah satu senjata andalan yang tidak boleh dilupakan agar berbagai event bisa terselenggara di tempatnya masing-masing.

Bila dijumlahkan secara sederhana, Dyandra and Co. kelihatannya menjadi "pemilik lahan" gedung konvensi yang terluas sampai saat ini. Anak usaha Kompas Gramedia Grup itu paling tidak mengelola dan memiliki 5 gedung konvensi, yaitu Indonesia Expo (25 ha), gedung konvensi Makassar (2,5 ha), Gramedia Expo Surabaya (2,5 ha), Gramedia Expo Medan (4,7 ha), dan Bali Nusa Dua Convention Center (7 ha). Total jendral, Dyandra and Co. menguasai 40 hektar lebih ajang perhelatan pertemuan, pertunjukan, konvensi, dan pameran.

Dengan demikian, bisa dipastikan, bahwa bendera bisnis anak usaha Kompas Gramedia Grup yang bergerak di bidang konvensi, pameran, dan pembangunan infrastruktur properti pendukungnya ini bakal berkibar semakin kencang di tahun-tahun mendatang. Terlebih-lebih, jika rencana pembangunan gedung konvensi di Bandung dan Semarang, dapat terealisasi dalam waktu cepat.



Berhubungan Dengan:
(Berita-Bisnis) - Jika tak ada halangan, pada pertengahan tahun 2014, conve
(Berita-Bisnis) - Tanpa banyak publikasi, Artha Debang Development (ADD) Gr
(Berita-Bisnis) - Setelah melalui dua tahap penilaian yang digelar Majalah