Berita Bisnis

INILAH NAMA-NAMA PENGUASA BISNIS CAT DI INDONESIA

Bisnis cat diperkirakan tumbuh sebesar 8 hingga 10 persen sepanjang tahun ini. (Foto: Ist)Bisnis cat diperkirakan tumbuh sebesar 8 hingga 10 persen sepanjang tahun ini. (Foto: Ist)(Berita-Bisnis) - Awal Januari lalu, PT Avia Avian menggugat PT Indaco Coatings Industri di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pangkal persoalannya adalah cat Envitex yang diproduksi oleh Indaco Coatings Industri.

Menurut Avia Avian, Envitex memiliki persamaan merek dengan cat yang telah didaftarkan sebelumnya oleh Avia Avian di Ditjen HaKI. Persisnya, pada tahun 1984, Avia Avian telah lebih dulu mendaftarkan cat bermerek Avitex. Jadi, pendek cerita, Avia Avian minta ke majelis hakim agar membatalkan merek Envitex.

Kegusaran yang melanda produsen cat Avitex itu sesungguhnya tak lepas dari konstelasi bisnis cat itu sendiri. Maklumlah, fulus yang mengalir dari bisnis ini bukan main besarnya. Coba tengok data yang disodorkan Frost & Sullivan.

Berdasarkan perhitungan lembaga riset terkemuka itu, nilai industri cat nasional pada tahun 2009 diperkirakan mencapai US$ 992 juta dengan volume 637.750 metrik ton. Setahun kemudian, sudah bergerak naik menjadi US$ 1,1 miliar (volume 688.770 metrik ton).

Tahun lalu, nilainya meningkat lagi menjadi US$ 1,197 miliar dengan volume 748.004 metrik ton. Di tahun ini, seiring dengan perkembangan bisnis properti secara umum, industri cat pun ikut terkerek naik. Secara nasional, bisnis cat diperkirakan tumbuh sebesar 8 hingga 10 persen sepanjang tahun 2012.

Betul, persoalan yang melibatkan kedua pebisnis cat di atas tadi memang belum sepenuhnya berakhir. Meski demikian, toh tidak mengurungkan niat keduanya untuk tetap aktif memproduksi sekaligus memasarkan produknya masing-masing. 

Menurut Iwan Andranacus, Direktur Utama Indaco Coating Industry, pihaknya sampai saat ini tetap menjual cat dengan merek Envitex, Envilux, dan Belazo. Dan, dari markasnya di Solo, perusahaan yang berdiri tujuh tahun lalu ini mampu memproduksi lebih dari 1000 metrik ton cat per bulan.

Nama Vinilex cukup  dikenal di kategori cat dekoratif. (Foto: Ist)Nama Vinilex cukup dikenal di kategori cat dekoratif. (Foto: Ist)Cat Belazo terhitung merupakan produk baru yang diluncurkan oleh Indaco Coating Industry. Tepatnya, pada akhir 2009 silam, Indaco Coating Industry merilis Belazo sebagai produk cat dekoratif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern kelas premium.

Sedangkan Avia Avian, dari tiga pabriknya yang berlokasi di Sidoarjo, Serang, dan Medan, mampu menghasilkan 150 juta kilogram cat setiap tahunnya. Perihal brand yang beredar, jangan ditanya. Untuk kategori produk cat tembok premium misalnya, Avia Avian menghadirkan Sunguard, Supersilk, dan No Odor yang menggunakan teknologi dari Lenkote Paint Australia.

Adapun di kategori produk cat tembok, perusahaan  yang dirintis oleh Tan Tek Swie alias Soetikno Tanoko sejak November 1978 itu, merilis Fres, Avitex, dan Belmas. Produsen cat yang berbasis di Surabaya ini juga menghasilkan cat kayu dan besi, cat genteng/seng, cat pelapis anti bocor, cat duco & spray, plamir dan cat dasar tembok hingga semen instan bermerek Giant Mortar.

Semua produk itu didistribusikan melalui 54 kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut Ruslan Tanoko, Marketing Director Avia Avian, dalam operasional sehari-hari, pihaknya didukung oleh distributor milik sendiri (anak perusahaan berlabel PT Tirtakencana Tata Warna) serta agen yang sudah bekerja sama selama bertahun-tahun.

Masih dari Surabaya, PT Mikatasa Agung pun seolah tak mau ketinggalan untuk menikmati kegurihan bisnis cat. Dengan mengusung dua brand, yaitu Taka (cat premium) dan Mawar (middle-low), Mikatasa Agung bahkan sudah mencoba menjajal peruntungannya di pasar ekspor.

Meski dalam jumlah yang terbatas, produk cat Mikatasa Agung sudah mampir di Zimbabwe. Kelak, perusahaan yang juga memproduksi lem merek Rajawali ini berencana merambah pasar Malaysia dan Vietnam.

Agar penetrasinya semakin kuat di pasar domestik, Mikatasa Agung yang saat ini baru memiliki pabrik cat dengan kapasitas terpasang sebesar 20 ribu metrik ton, juga berniat menambah kantor cabang baru di beberapa wilayah Indonesia bagian timur, semisal di Maluku dan Papua. Bahkan, lebih dari itu, Mikatasa Agung sedang dalam tahap persiapan sekarang ini untuk meningkatkan kapasitas pabriknya menjadi 40 ribu metrik ton.

Rencana ekspansi bisnis itu memang bisa dimaklumi. Soalnya, di Indonesia sendiri, total produksi cat yang dihasilkan oleh semua pebisnis cat tampaknya belum mencukupi kebutuhan yang ada.

Berdasarkan data yang diperoleh oleh Berita-Bisnis, disebutkan bahwa hingga akhir tahun lalu, total produksi cat nasional berada di kisaran 25 juta liter. Sementara, di saat yang sama, total konsumsi dalam negeri diproyeksikan mencapai 33 juta liter. Artinya, ada defisit sekitar 8 juta liter yang harus dipenuhi dari impor.

Meski demikian, kenyataan tersebut tetap saja memberikan gambaran bahwa peluang bagi produsen cat domestik untuk menggenjot produksinya masih terbuka sangat lebar. Tak terkecuali bagi PT Pabrik Cat dan Tinta Pacific - populer dengan sebutan Pacific Paint.

Tahun lalu, di sekitar menjelang tutup tahun -masih dalam kerangka mendorong peningkatan omset bisnisnya- Pacific Paint mengeluarkan produk terbarunya berupa cat tembok interior anti noda ramah lingkungan bertajuk Pacific ECO. Bersama produk lain yang juga dihasilkannya, perusahaan cat pertama di Indonesia itu (berdiri sejak 1943) optimis bisa mendulang uang sebanyak Rp 400 miliar setahun silam.

Tahun 2011, nilainya meningkat lagi menjadi US$ 1,197 miliar. (Foto: Ist)Tahun 2011, nilainya meningkat lagi menjadi US$ 1,197 miliar. (Foto: Ist)Sebelumnya, medio Juli 2011, PT Mowilex Indonesia bahkan meluncurkan ulang produk cat tembok interior New Cendana. Selain mengubah kemasan, Mowilex Indonesia juga menata kembali penyebaran cat New Cendana. Hal itu dilakukan karena Mowilex Indonesia melihat masih terbukanya celah pasar kelas menengah untuk digarap.

Menurut Jusri Sidik, Direktur Penjualan dan Pemasaran Mowilex Indonesia, pihaknya berusaha keras menjual 500 hingga 700 ton cat New Cendana setiap bulannya.

Pebisnis lain yang juga terbilang agresif adalah PT ICI Paints Indonesia yang memasarkan cat andalannya: Dulux. Beragam aktifitas pemasaran rutin dilakukan oleh produsen cat ini. Malah, ICI telah menetapkan pabrik Dulux yang berlokasi di Cikarang menjadi megasite, yaitu pabrik yang memiliki kapasitas produksi lebih dari 100 juta liter cat per tahun.

Singkat cerita, bisnis cat memang sangat layak untuk digarap habis-habisan. Ya, itu tadi. Nilai bisnisnya sangat menggiurkan. Karena itu pula, banyak pebisnis yang bergelut di dalamnya, mulai dari ICI Paints Indonesia (Dulux dan Catylac), PT Nipsea Paint and Chemicals (Nippon, Vinilex, dan Q-Lux), PT Propan Raya ICC (Propan dan Ultran), PT Nipsea Paint and Chemicals (Maziora), PT Kansai Paint Indonesia (Alesco), PT Mowilex Indonesia (Mowilex), PT Jotun Indonesia (Jotun), PT Avia Avian, PT Indaco Coatings Industri, PT Mikatasa Agung, dan lain sebagainya.

Tentu saja, masing-masing dari mereka adalah penguasa di kelasnya. Misal, untuk cat dekoratif, ICI Paints Indonesia bersama Nipsea Paint and Chemicals disebutkan menguasai pangsa pasar lebih dari 30 persen.

Lalu, di kategori cat kayu, nama Propan Raya ICC dengan brand Propan dan Ultran diklaim menggenggam lebih dari separuh market share cat kayu. Sedangkan di kelas cat otomotif, Nipsea Paint and Chemicals bersama Kansai Paint Indonesia diakui menguasai lebih dari 80 persen pasar kategori ini. (BB/dbs/Christov)

Berhubungan Dengan:
(Berita-Bisnis) - Dalam rangka memperbanyak pilihan yang ditawarkan ke kons
(Berita-Bisnis) - Berbekal dana investasi sebanyak US$ 62 juta, PT Jotun In
(Berita-Bisnis) - Dengan asumsi pertumbuhan industri cat bakal bertumbuh se