Berita Bisnis

TARAKUSUMA BERSAMA DANA PERSADARAYA DOMINASI BISNIS HELM

Dirancang sesuai dengan kondisi segmen yang disasar. (Foto: Ist)Dirancang sesuai dengan kondisi segmen yang disasar. (Foto: Ist)(Berita-Bisnis) - Sabtu, 7 April silam, suasana peluncuran sepeda motor Yamaha Soul GT tampak agak berbeda. Selain menghadirkan skutik anyar, PT Yamaha Indonesia juga secara resmi merilis produk baru berlabel helm Soul GT. Produk itu diklaim inline dengan sepeda motornya. Jadi, akan terasa pas bila saat menunggangi skutik Soul GT, si pengendara pun mengenakan helm Soul GT.

Selebihnya adalah penegasan keunggulan lain yang dimiliki helm Soul GT. Selain dirancang eksklusif, helm itu juga dipastikan bakal memberikan rasa aman dan nyaman saat berkendara sebab kerangkanya telah teruji dan sudah memenuhi standar SNI-2007. Lalu, karena dikembangkan dengan konsep clean, safety, dan comfort, maka untuk membersihkannya pun terbilang sangat mudah. Itulah kelebihan-kelebihan yang dimiliki helm Soul GT.

Bagi yang berminat, bisa mendapatkannya di diler-diler resmi Yamaha dengan harga Rp 225 ribu per unit. Perihal warna, terserah pembeli. Yamaha Indonesia sudah menyediakan beberapa varian warna.

Tapi, ini yang lebih penting lagi, Yamaha Indonesia berambisi bakal memproduksi helm Soul GT sebanyak 5 ribu unit per tahun.

Mungkinkah? Rasanya tidak pantas untuk mengajukan pertanyaan seperti itu. Bagi Yamaha Indonesia, niat semacam itu pastilah bukan hal sulit untuk dicapai. Lebih banyak dari jumlah tadi juga bukan hal mustahil untuk diraih.

Pertanyaannya adalah mengapa Yamaha Indonesia terjun ke bisnis ini?

Sejak 1 April 2010, aturan yang menerapkan helm wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) mulai efektif diberlakukan. Sontak proyeksi baru terhadap total angka produksi helm pun segera dirilis. Kata John Manaf waktu itu, tak kurang dari 24 juta unit helm akan beredar di pasaran. Angka tersebut adalah perkiraan total kapasitas produksi terpasang dari semua produsen helm lokal.

Masih menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Helm Indonesia itu, jumlah 24 juta helm tadi jauh meningkat bila dibandingkan dengan total produksi helm tahun sebelumnya (2009) yang hanya 14,8 juta unit.  

Tarakusuma Indah memproduksi lebih dari 2 juta helm setiap tahun.  (Foto: Ist)Tarakusuma Indah memproduksi lebih dari 2 juta helm setiap tahun. (Foto: Ist)Pembengkakan jumlah produksi tadi sejatinya tak bisa dilepaskan dari keberadaan UU No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Dalam pasal 57 ayat 2, ditegaskan bahwa pengendara kendaraan roda dua, termasuk yang membonceng ataupun yang dibonceng, wajib mengenakan helm SNI. Siapa saja yang melanggar aturan ini bisa dikenai sanksi kurungan maksimal satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu.

Jadi, wajar bila kemudian jumlah keseluruhan produksi helm diprediksi membesar hingga 24 juta unit. Bagaimana dengan kondisi terakhir? Sayang tidak banyak data yang terungkap. Namun, ditaksir tak kurang dari 20 juta helm telah beredar sampai saat ini.

Bicara tentang potensi pertumbuhannya, sudah pasti tidak bisa dilepaskan dari angka penjualan sepeda motor itu sendiri. Tampak ada korelasi diantara keduanya. Asumsinya kurang lebih seperti ini: penjualan roda dua meningkat maka besar kemungkinan penjualan helm pun ikut terkerek naik.

Nah, bila menilik besaran nominalnya, barulah bisa dipahami alasan Yamaha Indonesia terjun ke bisnis ini. Ambil contoh helm Caberg SNI baru yang dipajang di kaskus minggu lalu dengan label harga Rp 120 ribu. Jika basis perhitungan menggunakan label harga tersebut, kemudian dikalikan dengan jumlah total 20 juta unit helm yang beredar -atau katakanlah hanya separuh saja, yaitu 10 juta unit- sudah pasti bisa dibayangkan betapa besarnya magnitude bisnis yang satu ini. Duit yang dapat "dipetik" dari bisnis ini sangat menggiurkan. Tak heran Yamaha Indonesia pun tertarik menekuninya.

Pertanyaan selanjutnya, siapa saja yang "berkuasa" di bisnis ini?

Bagi pengguna helm, brand semacam INK, KYT, MDS, BMC, dan HIU, agaknya sudah bukan hal asing lagi. Semua merek helm itu adalah besutan PT Tarakusuma Indah yang bermarkas di kawasan Tomang, Jakarta Barat. Dan, di bisnis ini, langkah Tarakusuma Indah sudah dimulai dari tahun 1980-an. Karena itulah, Tarakusuma Indah juga dikenal sebagai produsen helm motor roda dua yang pertama di Indonesia.

Kini, lewat PT Taracitra Kusuma yang mengoperasikan pabrik seluas 15 ribu meter persegi yang berlokasi di Delta Silicon, Lippo Cikarang, Tarakusuma Indah memproduksi lebih dari 2 juta helm setiap tahun. Sebagian besar helm tersebut dijual di pasar domestik. Adapun sekitar 20 ribu helm "dilempar" ke pasar ekspor seperti ke Australia, Belgia, Brasil, Italia, Jepang, Singapura, dan Afrika Selatan.

Tarakusuma Indah memproduksi jenis helm mulai dari tipe full face, open face, motocross hingga modular (flip up). Semuanya ditawarkan dengan merek berbeda untuk masing-masing segmen market yang dituju. Misalnya, INK, KYT, dan MDS ditujukan ke kelas menengah atas. Sedangkan BMC dan HIU diarahkan untuk kelas menengah bawah.

Kapasitas  produksi mencapai 660 ribu unit per bulan. (Foto: Ist)Kapasitas produksi mencapai 660 ribu unit per bulan. (Foto: Ist)Bersamaan dengan itu, menurut Andri Hariadi, Public Relation & Community Development Head Tarakusuma Indah dalam satu kesempatan, pihaknya juga berperan sebagai pemegang lisensi helm impor merek AGV, Arai, Bell, dan Vemar di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, guna memenuhi kebutuhan pelanggannya, Tarakusuma Indah sempat memperkenalkan model helm unik, yaitu INK Spy Hacker. Helm itu terhitung sebagai helm pertama di Indonesia yang mengaplikasikan fitur Integrated Prism Mirror System. Dengan fitur tersebut, pengguna helm ini cukup mengarahkan sedikit saja pandangannya ke arah atas visor, maka akan terlihat pandangan nyata dari situasi di belakang si pengendara. Fitur tadi ibarat kaca spion.

Khusus untuk pengendara motor wanita, Tarakusuma Indah pun meluncurkan helm open face KYT Yaris yang memberikan ruang tambahan guna kenyamanan bagi pengendara wanita yang berambut panjang maupun wanita yang berjilbab.

Asal tahu saja, baik Tarakusuma Indah maupun Taracitra Kusuma, keduanya berinduk ke PT Dinaheti Motor Industri yang juga dikenal sebagai Original Equipment Manufacture alias perusahaan yang memproduksi merek lain atas pesanan si pemilik merek.

Dengan memanfaatkan popularitas Upin dan Ipin, PT Dana Persadaraya Motor Industry pun merilis helm yang ditujukan kepada anak-anak. Sesuai dengan kondisi segmen yang disasar, helm ini dirancang memiliki jendela angin sehingga bisa mengurangi panas pada kepala. Adapun perihal standar SNI yang disyaratkan, itu sudah pasti.

Tapi, tunggu dulu. Dana Persadaraya Motor Industry bukan hanya memproduksi helm bercorak Upin dan Ipin saja. Perusahaan yang bermarkas di Citeureup, Bogor ini, juga diketahui sebagai produsen helm merek NHK, GM, VOG, MAZ, MIX, BEON, dan ZETA. Tiga tahun lalu, kapasitas produksi helm Dana Persadaraya Motor Industry sudah mencapai 660 ribu unit per bulan.  Dan, sampai saat ini, total kapasitas terpasang pabrik helm Dana Persadaraya Motor Industry tercatat mencapai 3 juta unit dalam setahun.

Sejak tahun 2009, Dana Persadaraya Motor Industry pun sudah mulai melebarkan sayap bisnisnya ke produk apparel pengendara motor. Waktu itu, Johanes Cokrodiharjo, Direktur Pemasaran Dana Persadaraya Motor Industry bilang, pihaknya membenamkan dana investasi puluhan miliar untuk memproduksi beberapa jenis produk apparel semacam jaket, sarung tangan, dan tas helm.

Agar jangkauan pemasarannya bisa lebih luas dan sesuai dengan gaya hidup saat ini, maka sejak medio September tahun 2011, Dana Persadaraya Motor Industry meluncurkan situs Helmku.com sebagai outlet resmi-nya (authorized store).

Berambisi  memproduksi helm sebanyak 5 ribu unit per tahun. (Foto: Ist)Berambisi memproduksi helm sebanyak 5 ribu unit per tahun. (Foto: Ist)Tarakusuma Indah, Taracitra Kusuma, Dinaheti Motor Industri maupun Dana Persadaraya Motor Industry hanyalah beberapa pemain di ranah bisnis helm. Dengan mengandalkan merek Cargloss, PT Mega Karya Mandiri juga ikut meramaikan bisnis yang satu ini dengan kapasitas produksi mencapai 300 ribu helm per bulannya.

Untuk sekedar diketahui, helm cuma satu lini bisnis dari empat lini bisnis lainnya yang berada dalam naungan Mega Karya Mandiri. Perusahaan yang dipimpin Harry Suherman selaku Presiden Direktur itu juga menggarap bisnis cat, coating, plastic injection serta engineering.

Dari pabriknya yang berlokasi di Jl. Raya Serang Km. 28, Balaraja, Tangerang, PT Helmindo Utama menawarkan helm bermerek Xpot dan Ainon dan diklaim telah meraih sukses di pasar Korea, Filipina, dan Eropa. Hingga kini, Helmindo Utama mampu memproduksi lebih dari 250 ribu unit helm per bulan.

PT Caberg Indonesia sendiri dengan helm Caberg-nya, dalam tempo sebulan, tercatat mampu menghasilkan lebih dari 30 ribu unit helm. Sedangkan PT Safety Motor Indonesia yang berdiri pada tahun 1994, dari dua pabriknya yang terletak di kawasan Kapuk Muara, Jakarta serta Sepatan Timur, Tangerang menghasilkan lebih dari 20 ribu unit helm per bulan dengan merek seperti SMI, Best-1, CrosX, dan JPN.

Pendek cerita, nama-nama di ataslah yang sampai saat ini tampak merajai bisnis helm di Indonesia lewat berbagai merek maupun jenis helm yang dipasarkan. Tentu, nama Tarakusuma Indah Group dan Dana Persadaraya Motor Industry tampak lebih menonjol dan dominan. (BB/dbs/Christov)

Berhubungan Dengan:
(Berita-Bisnis) - Memanfaatkan momentum Jakarta Motor Cycle Show (JMCS) 201
(Berita-Bisnis) - Dalam rangka memenuhi keinginan pecinta sepeda motor bebe
(Berita-Bisnis) - Diklaim lebih irit 26 persen dibandingkan generasi sebelu