Berita Bisnis

CARA LILY MENJUAL EXPERIENTIAL MARKETING

Mengandalkan experintal marketing sebagai strategi utama. (Foto: Ist)Mengandalkan experintal marketing sebagai strategi utama. (Foto: Ist)(BeritaBisnis) - Sukses menjalankan bisnis restoran itu tidak harus melulu dengan makanan yang enak dan harga yang murah. Apalagi di jaman sekarang, ketika bisnis restoran relatif gampang untuk digeluti siapa pun.

Alhasil, makanan enak dan harga murah bukan lagi jaminan utama -untuk tidak mengatakan nyaris usang- untuk memenangkan persaingan di bisnis ini.

Lantas, apa yang menjadi faktor pembeda sekaligus bisa menjadi magnet yang menarik? Mungkin menjual 'suasana' bisa dipertimbangkan.

Coba tengok apa yang dilakukan restoran Kembang Goela. Jika restoran lain banyak yang menghadirkan nuansa dengan interior modern, Kembang Goela justru sebaliknya. Bagaimana tidak. Saat melangkahkan kaki masuk melewati pintu utama Kembang Goela, kita sudah seolah-olah dibawa kembali ke jaman baheula.

Mulai dari lagu, interior, meja, dan kursi makan, semuanya terasa kental dengan aroma  jaman kolonial Belanda dulu. Tidak ketinggalan pula nama menu yang terdaftar juga memakai judul yang berbau unsur Belanda. Misalnya sosis Om Yance, Huzaren sla (salad), dan ayam bakar mevrow Lintje. Masakan peranakan Indo-Belanda memang menjadi tema sentral Kembang Goela.

Mudah ditebak, restoran ini memang sangat mengandalkan experiential marketing sebagai strategi utamanya. Hal mana dibenarkan oleh Lily Admodirdjo, pemilik Kembang Goela.

Lihat saja nuansa kolonial yang mendominasi penampilan Kembang Goela. Nuansa itu sengaja dihadirkan untuk menyuguhkan pengalaman tersendiri di benak pelanggan yang datang. Sekaligus menjadi ciri pembeda Kembang Goela dibanding restoran-restoran lainnya.

Dan, supaya tetap terlihat rapi dan segar, Lily juga kerap menggonta-ganti susunan meja dan dekorasi serta perubahan-perubahan kecil lain yang mendukung terciptanya suasana yang diinginkan.

Adapun makanan yang ditawarkan, ya itu tadi, masakan peranakan Indo-Belanda adalah andalan utama Kembang Goela.

Kata Lily, sebagian dari menu yang tersaji merupakan hasil inovasinya yang dilakukan terus menerus. Untuk hal ini, Lily punya cerita sendiri. Lily beribukan seorang wanita Belanda yang pandai memasak dan ia menyadari kepandaian itu menurun ke dirinya. Belakangan, bakat itu berkembang dan kemudian melahirkan beragam menu andalan Kembang Goela. Di samping itu, sebagian menu berasal dari resep leluhur.

Lily membuka restoran pertamanya dengan nama Bunga Rampai. Kemudian, disusul Meradelima, Kembang Goela, dan terakhir Bumi Beringin yang berlokasi di Manado. Uniknya, dalam mengembangkan restoran, Lily tidak membuka cabang. Ia lebih memilih membuka restoran yang benar-benar baru.

Pasalnya, Lily ingin memiliki restoran yang berkarakter. Mulai dari pemilihan nama, interior, menu sampai servis. Intinya, ia tidak ingin sekadar restoran yang menjadi tempat makan biasa. Akan tetapi, bisa menjadi tempat destinasi bagi setiap orang yang merindukan kekhasan yang dimiliki oleh masing-masing restoran yang dikelolanya.

Rajin mengganti susunan meja dan dekorasi. (Foto: Ist)Rajin mengganti susunan meja dan dekorasi. (Foto: Ist)Misalkan, jika ada konsumen yang ingin mencoba menu yang berbau Indo-Belanda, konsumen itu bisa datang ke Kembang Goela. Sedangkan, kalau ingin mencicipi masakan peranakan Indo-China, si konsumen bisa mampir ke Meradelima.

Kembali ke soal Kembang Goela. Lantaran berada di kawasan perkantoran di daerah segi tiga emas Jakarta, maka market yang dibidik pun tak lepas dari para pekerja atau profesional yang bekerja di sekitar Karet-Sudirman. Berawal dari situ pula, kini market Kembang Goela kemudian meluas ke pasar korporat.

Acap pula terjadi, karena memiliki space yang lumayan luas, Kembang Goela digunakan sebagai tempat beragam kegiatan korporat, seperti lokasi peluncuran produk baru atau menjadi wahana pelaksanaan gathering perusahaan.

Meski demikian, target pelanggan Kembang Goela sejatinya adalah keluarga dan individu yang ingin makan dengan nuansa baheula yang identik dengan kesan kuno, namun unik sekaligus romantis.

Lily sadar bahwa keinginan untuk menghadirkan suasana yang diharapkan tak akan bisa terwujud bila sumber daya manusia yang sehari-harinya berfungsi sebagai operator bukanlah sumber daya manusia yang cakap. Terlebih konsep restoran erat kaitannya dengan experiential marketing.

Itu sebabnya servis kemudian menjadi satu poin penting yang mendapat perhatian utama. Tapi, jangan salah, servis adalah tampilan yang kelihatan di mata pelanggan saat dimana sumber daya manusia yang melaksanakannya telah memperoleh 'perlakuan' yang cukup layak.

Untuk itu, terutama guna menjaga tercapainya level servis, maka Lily lebih dulu membenahi tingkat kesejahteraan dan jenjang karir sumber daya manusianya. Ia paham, dengan kesejahteraan yang baik dan arah karir jelas, maka karyawan akan termotivasi melakukan peningkatan kualitas diri plus mampu mengimplementasikan level servis yang diinginkan, yang pada akhirnya bakal berpengaruh terhadap kinerja restoran itu sendiri.

Di sisi lain, ada juga kewajiban rutin bagi karyawan yang dilaksanakan setiap tahun untuk mengikuti beragam pelatihan yang digelar secara internal maupun oleh pihak eksternal. 

Bukan hanya itu saja. Fungsi dan peranan public relation juga dioptimalkan dalam upaya membangun brand image Kembang Goela. Dalam hal ini, cara yang ditempuh terbilang bervariasi. Entah itu mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun bagi pelanggan atau hanya menelepon untuk sekadar menanyakan kabar sampai mengundang para pelanggan setianya ke beberapa acara yang diselenggarakan oleh Kembang Goela.

Memilih membuka restoran yang benar-benar baru. (Foto: Ist)Memilih membuka restoran yang benar-benar baru. (Foto: Ist)Aktifitas above the line pun tak luput dari perhatian. Kembang Goela beriklan di berbagai media cetak yang sesuai dengan segmen market-nya. Tak heran, bila kemudian, total pengunjung Kembang Goela bisa mencapai kisaran 400 orang per harinya.

Dalam menerapkan strategi experiential marketing, pengalaman pelanggan sesungguhnya merupakan satu kunci pokok yang tidak bisa diabaikan. Apalagi jika pengalaman itu terlontar dalam bentuk komplain.

Bagi Lily, hal semacam ini justru merupakan peluang yang baik untuk mengukur level servis yang diidamkan. Ia akan datang ke restorannya, lalu memesan menu yang sama yang dipesan oleh pelanggan yang komplain. Kalau ternyata hasilnya klop dengan isi keluhan, maka teguran kepada karyawan yang salah akan segera diberikan.

Kendati penuh potensi, bisnis restoran di mata Lily adalah bisnis yang juga penuh dengan tantangan. Pendek kata, entry barries-nya rendah sehingga hampir setiap waktu ada saja pebisnis yang membuka restoran baru. Alhasil, harga dan produk pun dipastikan bersaing ketat. Tak terkecuali bajak membajak sumber daya manusia sudah menjadi hal lumrah.

Walau begitu, Lily berprinsip bahwa jika kualitas produk, kecepatan dan pelayanan prima bisa dijaga, maka seberat apapun tingkat persaingan yang dihadapi, pastilah akan bisa menang, atau minimal bertahan.






Berhubungan Dengan:
(Berita-Bisnis) - Dalam rangka meningkatkan awareness konsumen, PT Michelin
(Berita-Bisnis) - Strategi turn around yang dilakukan PT Elnusa Tbk, antara
CONCEPT-STRATEGY-ACTIONBy MAJALAH MARKETING